Ada yang mengatakan ketika bekerja ya bekerja, tidak boleh dicampur adukkan dengan kegiatan yang sifatnya bermain-main atau bahasa kerennya, having fun. Tetapi hal tersebut tidak berlaku bagi saya, ketika bertugas di Banda Aceh dalam rangka memberikan pelatihan mengenai Content Management System (CMS) website e-aceh.nias.org. Saya bekerja sekalian bersenang-senang di kota yang dijuluki Serambi Mekkah itu.
Hari pertama kedatangan saya berdua dengan atasan saya di bandara Sultan Iskandar Muda, kami disuguhi pemandangan yang sangat indah dan menawan hati. Begitu medarat, kamera yang kami bawa langsung beraksi. Jeprat-jepret, pose sana, pose sini, barangkali dalam hati para penumpang yang lain berkata:”kayaknya nih orang baru pertama ke Aceh deh, ndeso…”. Hohoho…ketahuan sekali bahwa Saya memang baru kali pertama ke Aceh.
Kesan pertama yang saya rasakan mengenai Banda Aceh bahwa kota ini mempunyai kemiripan dengan Yogya, kota tempat saya menimba ilmu selama kuliah, dalam hal bentang alamnya yang berbukit-bukit dan bergunung-gunung, cuacanya yang sangat terik dan dengan anginnya yang kencang. Cuaca seperti ini, dijamin jika tidak memakai sunblock, akan membuat kulit cepat menghitam, seperti yang saya alami.
Beberapa saat kemudian saya dijemput menuju markas BRR di Banda Aceh, tempat saya akan bekerja, dan terlihat sangat sibuk. Markas BRR ini menjadi kantor Gubernur NAD dua kali dalam seminggu karena selain menjadi Gubernur beliau juga merangkap sebagai Wakil Kepala BRR. Sehingga ketika kami sampai, terlihat penjagaan yang agak ketat, oleh para perwira polisi. Di beberapa tempat terlihat tenda putih besar yang difungsikan sebagai kantor.
Waktu sholat di Aceh, ternyata mempunyai perbedaan yang cukup signifikan dengan di Jakarta, yaitu satu jam. Saya baru tersadar setelah melihat jam di tangan menunjukkan pukul 6, tetapi di luar masih terang benderang layaknya pukul 5 sore. Akhirnya pelatihan berakhir pada pukul 7 sore bertepatan dengan azan maghrib. Hari pertama di Aceh diakhiri dengan makan Mie Kepiting Razali. Sungguh nikmat rasanya…
Hari kedua diisi dengan sesi pelatihan Internet oleh Pak Nukman, CEO virtual Consulting kepada tim pemda NAD dan tim BRR. Sebelum memberikan pelatihan, kami menyempatkan untuk makan siang dengan menu Ayam Tangkap di Cut Dek yang sangat nikmat.
Pelatihan diikuti oleh para peserta dengan sangat antusias dan berakhir hingga pukul 6 sore. Malamnya, kami makan malam sembari berkaraoke (saya lupa nama tempatnya).
Hari terakhir di NAD, adalah hari bersenang-senang sesungguhnya, meski hanya beberapa jam. Paginya kami menuju pantai di daerah Lhok Nga.
Satu kata, Amazing!!! Sungguh sangat cantik pemandangan pantainya. Pasir yang putih nan bersih dengan awan yang cantik dan cerah. Siapa yang akan mengira bahwa tsunami berasal dari sini? Sehabis berpuas diri dengan tambahan koleksi foto-foto di pantai, warung kopi merupakan tujuan kami selanjutnya, selama kurang lebih 15 menit nongkrong untuk menikmati kopi Aceh yang nikmat. 15 menit selanjutnya dihabiskan di Toko souvenir, untuk sekedar membeli oleh-oleh untuk rekan kerja dan keluarga tercinta. Makan siang Ikan Tangkap di rumah makan Rayeuk merupakan tujuan akhir kami sembari menuju bandara. Pukul 1 siang, kami bertolak kembali ke Jakarta. Sungguh, saya sangat bersenang-senang selama di NAD.
